Peluang Kerja Baru di Era Digitalisasi

Peluang Kerja Baru di Era Digitalisasi

Peluang Kerja Baru di Era Digitalisasi

Beberapa waktu belakangan ini cukup ramai pemberitaan terkait sejumlah perusahaan startup yang terkenal di Indonesia melakukan PHK massal terhadap karyawan. Faktor makro ekonomi secara global yang penuh ketidakpastian selama pandemi Covid-19 dua tahun terakhir ini dianggap sebagai salah satu faktor utama.

Namun apakah fenomena ini akan menjadi awal ledakan gelembung (bubble burst) startup di Indonesia?

Gelombang PHK massal yang kemungkinan besar akan melanda startup di Indonesia dalam waktu dekat semakin memperburuk keadaan yang sudah terjadi karena COVID-19.

Kementerian Tenaga Kerja mencatatkan lebih dari 1,2 juta karyawan dari 74.439 perusahaan terdampak kehilangan pekerjaan.

Selain itu gencarnya otomatisasi dan robotisasi pun dapat menambah risiko lebih banyak masyarakat Indonesia kehilangan pekerjaan dalam waktu dekat.

Menurut data yang diterbitkan pada November 2020 di Journal of Robotics and Control, pada 5 negara ASEAN yang diteliti, peneliti menemukan bahwa 56 persen karyawan saat ini menghadapi risiko tinggi otomatisasi.

Meski demikian, perkembangan teknologi dan digitalisasi sebenarnya juga memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengisi lapangan kerja yang muncul di era digitalisasi seperti saat ini.

“Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau, kondisi geografi Indonesia menentukan pengembangan IT serta aksesibilitas layanan dan teknologi. Kami memperkirakan 40 persen dari pertumbuhan lowongan pekerjaan dalam dua tahun ke depan akan menghasilkan kebutuhan rekrutmen yang sangat besar di pasar,” jelas CEO & Founder Refocus Education Project Roman Kumay Vyas dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (1/6/2022).

Menurut data, kesenjangan antara jumlah lowongan kerja yang terbuka dan jumlah lulusan sangat tinggi. 600.000 lowongan muncul di pasar setiap tahun, sedangkan jumlah lulusan universitas hanya 50.000 per tahun. Jadi, untuk setiap CV ada 12 lowongan yang dibuka sehingga menghasilkan perbedaaan yang drastis.

Tidak hanya kurang dari sisi kuantitas, namun kurangnya pelamar kerja yang berkualitas juga tentu dapat menghambat pertumbuhan perusahaan di Indonesia.

Meskipun, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), negara ini memiliki populasi terbesar keempat di dunia, namun sekitar 50 persen penduduknya berusia di bawah 30 tahun.

Institusi pendidikan lokal pun tidak dapat mengatasi permintaan yang tinggi dari perusahaan sehingga, pengusaha Indonesia pun harus mempekerjakan orang dari negara lain yang memenuhi syarat untuk pekerjaan tersebut.

Google Indonesia memperkirakan bahwa ekonomi digital negara akan bernilai sekitar Rp 1,7 kuadriliun atau USD 124,1 miliar pada tahun 2025 (tiga kali lipat dari tahun 2020 dengan nominal Rp 548,2 triliun).

oemahbeling

See all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are makes.

Open chat
Halo
Ada Yang Bisa Dibantu